Minggu, 17 Juli 2011

Batuan Metamorf

BATUAN METAMORF

Menurut Katili&Marks (1963:90), batuan metamorf adalah batuan yang telah berybah karena bertambahnya tekanan dan temperatur. Sedangkan Grout pada tahun 1932 menyebutkan bahwa batuan metamorf adalah batuan yang mempunyai sifat-sifat nyata yang dihasilkan oleh proses metamorfisme. Perubahan dalam proses metamorfik adalah kristalisasi baru. Jadi, secara umum, batuan metamor adalah batuan yang terbentuk karena adanya perubahan tekstru, struktur dan/atau komposisi kimia akibat adanya proses metamorfisme tanpa melalui fase cair.

Dalam siklus batuan, dapat diketahui bahwa batuan metamorf dapat terbentuk dari batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf itu sendiri. Untuk menjadi batuan metamorf, batuan haruslah mengalami proses metamorfisme, yaitu proses dimana terjadi kenaikan suhu dan/atau temperatur yang sangat tinggi pada batuan. Metamorfisme dapat digolongkan menjadi :

1. Metamorfisme kontak/termal : terjadi pada zona kontak dengan tubuh magma, intrusif maupun ekstrusif yang mempunyai tekanan 1000 – 3000 atm dan temperatur 300° - 800°C.

Gambar 2: metamorfisme di sekitar intrusi batuan beku Gillen, 1982)

Sumber : http://wingmanarrows.files.wordpress.com/2010/07/clip_image006_thumb.jpg?w=630&h=510

2. Metamorfisme dinamik/dislokasi/kinematik/kataklastik : terjadi pada zona sesar, tekanan sangat tinggi.

3. Metamorifisme regional : terjadi pada daerah yang luas akibat orogenesis. Temperatur dan tekanan yang sangat tinggi berlangsung bersamaan dan terjadi di dalam kerak bumi. Proses ini berlangsung di atas zone of weathering and cementation namun berada di bawah zone of remelting. Tekanan pada proses ini berkisar antara 2000 – 13.000 bar dan temperatur berkisar antara 200° - 800°C.

Gambar 3: penampang yang memperlihatkan lokasi batuan metamorf (Gillen, 1982).

Sumber : http://wingmanarrows.files.wordpress.com/2010/07/clip_image008.jpg

Fasies Metamorfisme

Fasies metamorfisme merupakan suatu pengelompokan mineral-mineral metamorfik berdasarkan tekanan dan suhu dalam pembentukannya pada batuan metamorf. Setiap fasies pada batuan metamorf umumnya dinamakan berdasarkan jenis batuan (kumpulan mineral), kesamaan fisik atau kesamaan kimia.

Dalam hubungannya, tekstur dan struktur batuan metamorf sangat dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur dalam proses metamorfisme, dan dalam fasies metamorfisme, tekanan dan temperatur merupakan faktor dominan dimana semakin tinggi derajat metamorfisme, maka struktur akan semakin berfoliasi dan mineral-mineral metamorfik akan semakin kasar dan besar.

Gambar 4: Fasies metamorfisme

Sumber : http://geohazard009.files.wordpress.com/2009/12/metafacies.gif

Tekstur Batuan Metamorf

1. Tekstur Kristaloblastik, merupakan tekstur baru yang terbentuk akibat metamorfisme. Tekstur batuan asal sudah tidak terlihat lagi. Teksur ini terbagi atas :

a. Porfiroblastik : identik dengan porfiritik pada batuan beku. Dapat dijumpai adanya porfiroblast (identik dengan fenokrist pada batuan beku) di dalam suatu massa dasar.

b. Granoblastik : butiran mineral seragam dengan batas mineraltak teratur (sutured).

c. Lepidoblastik : mineral-mineral yang sejajar dan terarah adalah mineral-moneral pipih.

d. Nematoblastik : mineral-mineral yang sejajar dan terarah adalah mineral-mineral prismatik.

e. Idioblastik : mneral-mineral euhedral, identik dengan idiomorf pada batuan beku.

f. Xenoblastik : mineral-mineralnya anhedral, identik dengan xenomorf pada batuan beku.

2. Tekstur sisa/ relict/palimpset, merupakan tekstur batuan metamorf dimana tekstur batuan asalnya masih terlihat sehingga disebut sebagai tekstur sisa. Penamaannya diawali dengan kata ­blasto-

a. Tekstur Blastoporfiritik: tekstur yang memperlihatkan batuan asal dengan tekstur porfiritik.

b. Tekstur Blastopsefit: tekstur yang memperlihatkan tekstur batuan asal berupa batuan sedimen yang ukuran butirnya lebih besar dari pasir.

c. Tekstur Blastopsamit: sama dengan tekstur blastopsefit, namun memiliki ukuran butir pasir.

d. Tekstur Blastopellit: tekstur yang memperlihatkan batuan asal berupa batuan sedimen dengan ukuran butir lempung.

Struktur Batuan Metamorf

Struktur batuan metamorf terbagi menjadi 2 golongan, yaitu struktur foliasi yang menunjukkan adanya penssejajaran mineral dan struktur non-foliasi, dimana tidak terlihat adanya pensejajaran mineral pada batuan metamorf.

1. Struktur Foliasi

a. Schistossic :Struktur yang memperlihatkan pensejajaran mineral-mineral pipih seperti biotit dan muskovit

b. Gneissic : Adanya pensejajaran mineral-mineral granular

c. Slaty Cleavage : terlihat adanya bidang belah dan pensejajaran mineral berukuran lempung.

d. Phylitic : sama dengan slaty cleavage, namun mineral dan pensejajarannya lebih kasar.

2. Struktur Non-foliasi

a. Hornfelsic : memperlihatkan adanya butiran-butiran mineral yang seragam

b. Kataklastic : memperlihatkan adanya hancuran terhadap batuan asal

c. Milonitic : memperlihatkan lineasi dan orientasi mineral yang berbentuk lentikuler dan butiran mineralnya halus.

d. Pilonitic : memperlihatkan lineasi dari belahan permukaan yang berbentuk paralel dan butiran mineralnya lebih kasar daripada milonitik

e. Flaser : seperti kataklastik, namun struktur batuan asal berbentuk lensa yang tertanam dalam masa dasar milonit.

f. Granulose : sama dengan hornfelsic, namun butirannya berukuran beragam.

g. Augen : sama dengan flaser, namunlensa-lensanya terdiri dari feldspar dalam masa dasar yang lebih halus

h. Lineasi : adanya mineral berbentuk fibrous.